situspokeronline88.net

Apakah zat pengawet dalam makanan membahayakan kesehatan tubuh? Dalam makanan kemasan yang dijual secara umum sudah jelas diketahui

Dalam makanan kemasan yang dijual secara umum sudah jelas diketahui bahwa makanan tersebut mengandung zat pengawet. Tujuannya agar makanan yang dijual tidak berjamur atau muncul bakteri lainnya yang membuat makanan jadi cepat busuk.

hingga saat ini muncul pertanyaan, apakah zat pengawet tersebut membahayakan kesehatanmu?

“Ada dua faktor utama yang membuat makanan jadi cepat basi yaitu mikroba serta proses oksidasi. Mikroba seperti bakteri dan jamur akan merusak makanan dan menyebabkan penyakit listeria dan botulisme jika kamu mengonsumsinya. Sementara bakteri lainnya membuat makanan jadi berlendir, berbau, atau berjamur,” terang penelitian yang dilansir dari oleh penelitian bawa “Sementara oksidasi adalah perubahan kimia dalam molekul makanan yang dipicu oleh enzim atau radikal bebas yang mengubah makanan jadi tengik atau berwarna cokelat.”

“Zat pengawet bekerja dengan cara mencegah kedua jenis kerusakan utama di atas lewat zat seperti butylated hydroxyanisole (BHA), nitrat, dan asam benzoat. BHA digunakan dalam segala bentuk roti namun bisa menjadi racun jika tertelan dalam jumlah besar. Nitrat yang ditambahkan dalam sayuran berdaun akan bersifat karsinogenik ketika sayuran tersebut diolah dengan daging merah. Sementara asam benzoat ketika bercampur dengan asam askorbat (vitamin C) bisa menimbulkan perilaku hiperaktif bagi mereka yang mengonsumsinya. Sehingga sudah bisa disimpulkan bahwa zat pengawet bisa membahayakan kesehatan tubuh.”

“Sadar akan hal ini, maka beberapa produsen makanan pun mencoba cara alami untuk mengawetkan makanan seperti penambahan gula atau garam dalam ikan atau daging. Garam, utamanya akan bekerja dengan mengisap kelembaban di dalam ikan atau daging sehingga makanan tersebut jadi tidak cepat busuk. Namun, perlu diingat pula bahwa mengonsumsi makanan yang tinggi garam atau gula bisa menyebabkan diabetes atau penyakit jantung. Solusinya? Tentu saja akan lebih baik jika kamu mengonsumsi makanan yang masih segar.”

Exit mobile version